Puasa dan Daya Nalar

Written By zuhri zze on Kamis, 06 September 2012 | 05.28


Pangkal penalaran manusia pada hakikatnya terletak pada indera yang biasa disebut otak, dalam organ tubuh manusia otak merupakan titik sentral yang dengannya manusia bisa belajar, berfikir dan bekerja. Secara umum, pada tubuh manusia terdapat dua jenis otak yaitu; otak lahir yang terletak pada tubuh jasmani dan otak bathin yang terletak pada rohani. Kecakapan otak lahir biasanya hanya sebatas mampu mengindera obyek yang nyata, yang bisa diraba dan dilihat, sehingga hasil penalaran yang didapatkan hanya bersifal lahiriah.
Akan tetapi berbeda dengan kemampuan otak bathin, kemampuan otak bathin dapat didayagunakan menjangkau hal-hal yang luar biasa di luar kemampuan otak lahir, bahkan kecakapan otak bathin ini dapat ditingkatkan ke alam abstrak membuka tirai yang menutup sesuatu persoalan yang pada galibnya dipandang sulit dan alot.
Dr. Fritz Khant dalam bukunya; Der Mensh Gezund und Krank menyebut bahwa pangkal otak itu pusatnya adalah nafsu. Sementara fungsi nafsu umumnya saling bergetar dengan syaithan yang menjelmakan tindakan jahat dan buruk. Sehingga demikian, manakala cara berpikir yang hanya didasarkan pada kecakapan otak lahir tanpa didukung otak bathin yang transeden, maka akan mewujudkan hasil yang serba salah dan hasil yang melenceng dari kebenaran itu sendiri.

Dengan demikian, di sinilah peran puasa sebagai suatu bentuk latihan spiritual yang mampu mengendalikan nafsu manusia. Sehingga daya nalar yang dihasilkan otak manusia itu bisa menjadi bersih dan mencapai kebenaran yang hakiki.
Dalam dunia kedokteran telah diakui, bahwa orang yang berpuasa dengan keadaan perutnya kosong akan menyebabkan kosongnya zat-zat makanan di dalam usus kecil. Orang yang sering mengalami demikian pada umumnya memiliki daya penglihatan tajam dan memiliki kecakapan menganalisa persoalan dengan mudah pula. Sebaliknya orang yang lambung perutnya selalu dipenuhi makanan, dalam katak alin tidak pernah berpuasa, akan mudah sekali dihinggapi penyakit yang disebut “Mucesziehten”, sehingga mengakibatkan orang yang mengalami demikian akan cenderung bersikap pasif, rendah cara berfikirnya dan lambat dalam segala hal. Mucesziehten ini dapat mengakibatkan lemahnya pencernaan makanan, sehingga menimbulkan kerja saraf otak jadi lamban dan lemah.
Dengan lambatnya saraf otak menyebabkan pikiran menjadi tumpul, sukar untuk berpikir, dan tubuh jasmani selalu merasa berat dan lemah serta malas, sehingga menjadikan bukti kebenaran dari sabda Rasulullah s.a.w., yang berbunyi di bawah ini:
“Makan banyak adalah penyakit dan berpantang adalah pangkalnya semua obat”.
Dan jika diteliti lebih lanjut, Rasulullah dalam membina sahabatnya agar memiliki ketinggian daya nalar dan cara berpikir yang sempurna dengan cara berpuasa. Demikian pula jika kita lihat biografi para tokoh dan pakar ilmu pengetahuan dan kalangan intelektual genius, tentu akan tampak dalah hidup mereka senantiasa tidak lepas dari berpuasa.




 

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik