Gerakan Intelektual Baru di Eropa

Written By zuhri zze on Minggu, 23 September 2012 | 08.23


Pembaharuan kehidupan intelektual Eropa secara umum juga dimulai dengan Renaissance atau lahirnya kembali pengajaran (Pencerahan). Renaissance atau Pencerahan ini adalah pemikiran sebagai diketemukannya kembali warisan Eropa dari Yunani dan pengajaran Romawi. Walaupun demikian, ada aspek lain yang biasanya diabaikan, yakni, bahwa ada pula perubahan cepat dari pengajaran bahasa Arab dan upaya menepis seberapa banyak bangsa Eropa yang sudah belajar dari bangsa Arab. Sebelum makin berkembangnya aliran Thomisme, bangsa Eropa secara berat tergantung kepada Avicenna (Ibnu Sina) dan barangkali lantaran Ibnu Sina ini cocok dengan untaian cinta kasih kepada pemikiran Kristen. Sekalipun ilmu Aristoteles secara luas sampai ke Eropa melalui Averroes (Ibnu Rushd), yang juga mempunyai pengertian dengan memberikan posisi sentral kepada Aristotle yang akan menegaskan identitas Eropa untuk lebih memusuhi Islam. Satu tingkatan proses ini diilustrasikkan oleh Dante (1265-131). Dante sadar akan keragu-raguan bangsa Eropa kepada Filsafat Arab dan beberapa ide yang memberlakukan Komedi Ketuhanan yang mungkin berasal dari sumber sumber Islam. Secara keseluruhan bahkan Dante malah menyebut untuk mengabaikan Islam. Dante menempatkan Muhammad di Neraka berada di antara para penabur perpecahan. Dante bahkan menempatkan lebih buruk lagi dari itu ketimbang yang disebutkan tentang Ulyses. Dante menempatkan Ibnu Sina dan Ibnu Rushd dalam Limbo, melainkan menempatkan mereka pada "keluarga filosof" termasuk seorang dosen Yunani dan Romawi.
Pada tingkat proses ini dapat diamati sebagai Renaissance yang membawa proses perjalanan sejarah. Kebanggaan yang dahulu kepada segala hal yang berasal dari bahasa Arab itu, kini telah diganti oleh perubahan. Seorang ilmuwan Italia, Pica Della Mirandola (1463-1494) yang dengan sendirinya begitu bagus penguasaannya kepada bahasa Arab, bahasa Aramaik dan bahasa Yahudi, mengatakan di awal salah satu karyanya "Langit telah Meninggalkan kita atas nama Pythagoras, Plato dan Arissotle, dan Pertahankanlah Omar, Alchabitius, Abenzoar, Abenragelmu." Pada abad 13 dan 14 Masehi, bahasa Arab ini telah menjadi persyaratan bagi seorang professor bahasa Arab di Salamanca (begitu pula di Bologna, Oxford, Paris dan Roma). Namun pada tahun 1532, ketika seorang ilmuwan dari Negeri-negeri Dingin yang di Salamanca mempertanyakan tentang pembelajaran bahasa Arab yang berbeda dengan orang Spanyol, "Apa yang membuat anda tertarik kepada bahasa Arab, bahasa barbarian itu?" Cukuplah untuk mengetahui bahasa Latin dan bahasa Yunani. Pada masa mudaku aku bodoh seperti anda dan mempelajari bahasa Arab dan Yahudi. Namun setelah saya sekian lama meninggalkan bahasa Arab dan Yahudi dan mulai mencurahkan perhatian kepada bahasa Yunani sepenuhnya. Maka izinkanlah saya memberi nasehat kepada anda agar melakukan hal yang sama (yakni meninggalkan bahasa Arab dan Yunani, lalu mengutamakan perhatiannya kepada bahasa Yunani)."

Akibat Renaissance dan Reformasi ini adalah munculnya gerakan gerakan filsafat baru, di antara yang termasyhur adalah Rene Descartes (1596 1650) danJohn Lock (1632-1704). Gerakan filsafat baru ini menolak gerakan skolastisme, yang dimaksudkan adalah gerakan Kristenisasi aliran Aristotelianisme; dan ini tak pelak lagi disebabkan oleh kekakuan ajaran Kristen itu sendiri. Walaupun para filosof yang terkristenkan itu dan para penggantinya tidak dapat mencapai filsafat alternatif tunggal, namun dapat dipastikan mereka telah membangun "alam wacana" bagi para filosof yang telah diterima secara luas. Di samping itu tumbuh pula gerakan yang dikenal sebagai Enlightenment -- Pencerahan, yang menempatkan akal berada di atas wahyu dan yang paling utama adalah sifatnya yang anti agama. Secara khusus abad Pencerahan ini pada abad sembilan belas mengantarkan lahirnya disiplin-disiplin ilmu baru, tekstual, literer dan kritisme sejarah, dan memberi desakan kuat kepada pentingnya obyektifitas sejarah. Kritisme tekstual mempengaruhi para ilmuwan ke arah yang lebih akurat bagi versi-versi Yunani dan Latin klasik. Kemudian disiplin-disiplin ilmu itu diterapkan untuk kitab-kitab suci Kristen dan mencapai kesimpulan yang mengacaukan sebagian umat Krisen, meskipun secara mendasar disiplin-disiplin ilmu itu tidak menyentuh ajaran sentral Iman Kristen kecuali hanya berkenaan dengan masalah-masalah sekunder, misalnya di sekitar pengarang lima kitab pertama dari kitab suci Bibel.
Pada abad kedua puluh Masehi, kritisisme Perjanjian Baru makin mengangkat isu-isu yang lebih serius. Namun para ilmuwan yang juga adalah orang orang yang beriman kuat telah menangkis aspek-aspek negatif kritik-kritik tersebut dan memakai metode kritis untuk menemukan pemahaman lebih mendalam tentang keimanan mereka. Penting bahwa umat Islam hendaknya merealisir metode-metode tersebut secara ilmiah. Adapun tentang orang-orang yang menuduh salah aplikasinya kepada Islam, agaknya dialami pula bagi orang-orang yang menerapkan metode metode kritis ilmiah kepada Kristen. Mereka adalah umat Kristen yang harus bertanggung jawab untuk meninggalkan ide-ide tertentu tentang sejarah agama mereka yang sebelumnya diakui keabsahannya, bahkan tak pelak lagi memasukkan kebenaran-kebenaran sentral. Sebaliknya mereka telah membawa orang-orang Kristen mengapresiasikan metode-metode ilmiah ini kepada pemahaman Kristiani yang lebih mendalam.
Gerakan intelektual di Eropa ini secara umum mendorong banyak orang untuk melakukan penelitian ilmiah di berbagai bidang. Kemajuan yang terkenal ini terjadi pada pertengahan abad ke sembilan belas dengan diketemukannya teori evolusi oleh Charles Darwin. Teori ini menyebutkan bahwa manusia itu berasal dari makhluk hidup yang lebih rendah. Teori evolusi Darwin ini pertama kali ditolak oleh sebagian terbesar umat Kristen, sebab menurut mereka teori ini merusak teori penciptaan dalam kitab Genesis. Sekarang semua orang Kristen terdidik telah mengakui kebenaran teori evolusi Darwin ini dan memahami teori penciptaan dalam kitab Genesis bukan sebagai rival dari pandangan ilmiah itu, melainkan sebagai suatu cara untuk mengemukakan kebenaran-kebenaran penting tentang hubungan Tuhan dengan makhluk yang bernama manusia. Kebanyakan pandangan orang Islam juga telah ditumbangkan oleh bukti evolusi tersebut dan kadangkala menunjukkan bahwa teori Darwinian ini secara umum tidak diakui oleh para ilmuwan. Namun apa yang sesungguhnya gagal untuk menunjukkan bukti itu adalah para ilmuwan lain yang mengajukan kritik terhadap teori Darwin ini yang dianggap bahwa evolusi manusia itu bukan dari makhluk hidup yang lebih rendah, melainkan teorinya tentang cara yang dilakukan dalam teori evolusi itu.
Pada masyarakat dunia dekade terakhir abad dua puluh, ada pernyataan yang membuahkan persetujuan umum tentang dua hal. Pertama, adalah hasil-hasil ilmu pengetahuan yang meyakinkan untuk diterima ke dalam bidang sains yang sebenarnya, yakni hasil-hasil yang disetujui oleh sebagian terbesar para ilmuwan. Walaupun demikian, hasil hasil penelitian ilmiah ini harus ditafsirkan ke dalam konteks yang lebih luas di luar bidang ilmu pengetahuan semata, yakni, bidang apa yang dapat dijelaskan dengan berbagai cara, misalnya, bidang kosmologi, metafisika, maupun teologi. Ini berarti bahwa walaupun berbagai gambaran tentang bumi kita sebagaimana yang kita ketahui adalah benar-benar merupakan proses evolusioner. Oleh karena itu, bagi orang yang beriman kepada Tuhan di samping melakukan proses evolusioner ini atau malah dalam arti yang permanen, proses evolsi ini merupakan kreatifitas Tuhan.
Kedua,dari persetujuan umum itu adalah peryataan-pernyataan tentang segala yang terjadi di masa lampau sesuai dengan fakta historis obyektif sejauh mungkin untuk memastikan ini. Dalam bidang kesusasteraan umat Kristen sudah harus membebaskan penonjolan bahwa lima kitab Bibel yang pertama ini disusun oleh nabi Musa secara pribadi. Maka sekarang jelas sungguhpun basis yang asli itu berasal dari tulisan nabi Musa sendiri, buku-buku itu telah diwariskan melalui tangan-tangan beberapa penulis; akan tetapi perubahan pandangan tentang komposisi masing-masingnya tidak meredusir nilai spiritual buku-buku tersebut. Tentu saja, karya-karya sejarah ini adalah lebih dari kumpulan dari fakta fakta obyektif. Penulis suatu karya biasanya menyeleksi dari sejumlah fakta-fakta yang tersedia yang menghadirkan suatu gambaran masa lampau sebagai realisasi nilai-nilai tertentu (atau yang tidak memiliki nilai-nilai). Para penulis Kristen abad pertengahan menyeleksi fakta-fakta tentang Islam dalam suatu cara tertentu dalam rangka menciptakan suatu gambaran yang menyimpang dan mengingkari beberapa fakta-fakta lain yang bertentangan dengan yang sebenarnya. Juga untuk melahirkan pemikiran dari pokok-pokok isi yang sesungguhnya menjadi penilaian historis akan tetapi yang tidak berhubungan sama sekali dengan fakta-fakta obyektif yang kemungkinan meski dapat menjadi suatu cara menghadirkan kebenaran-kebenaran penting tentang aspek realitas. Jadi kitab Jonah dalam Bibel sekarang dipegangi oleh para ilmuwan seluruhnya menjadi khayalan belaka, dan bahkan mengandung ajaran Perjanjian Lama yang paling besar.






0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik