Filsafat Ilmu

Written By zuhri zze on Minggu, 01 Juli 2012 | 22.43


Jika berbicara mengenai filsafat ilmu, kita sulit memberikan suatu batasan yang positif. Banyak pendapat yang memiliki makna serta penekanan (emphasis) yang berbeda tentang filsafat ilmu.
Sebagai contoh ialah perbedaan pendapat antara Stephen Toulmin dengan Ernest Nagel tentang apakah filsafat ilmu merupakan suatu studi scientific achievement in vivo atau studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (problem of explanation). Untuk menetapkan dasar pemahaman tentang filsafat ilmu sangat bermanfa’at untuk menyimak empat titik pandang (view point) yang lebih luas dari ilmu.
Pandangan pertama menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah perumusan worl-views yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas, teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, merupakan tugas para filsuf ilmu (philosopher of science) untuk mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu.
Pandangan kedua mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presupposition dan predisposition dari para ilmuan. Filsuf ilmu mungkin mengemukakan bahwa para ilmuwan menduga (presuppose) alam tidak berubah-ubah, dan terdapat suatu keteraturan di alam sehingga gejala-gejala alam yang tidak begitu komleks cukup didapat oleh peneliti. Sebagai tambahan, peneliti mungkin tidak menutup keinginan-keinginan deterministik para ilmuwan lebih dari pada  hukum-hukum statistik, atau pandang mekanistik lebih dari pada penjelasan teologis. Pandangan ini cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu dengan sosiologi.

Pandangan ketiga mengemukakan bahwa filsafat ilmu itu adalah suatu disiplin yang di dalamnya konsep-konsep dan teori-teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasi. Hal ini berarti memebeikan kejelasan tentang makna dari berbagai konsep seperti partikel, gelombang, potensial, dan kompleks di dalam pemanfa’atan ilmiahnya. Akan tetapi, Gilbert Ryle telah menunjukkan terdapat suatu yang pretensius tentang pandangan ini mengenai filsafat ilmu sehingga para ilmuwan memerlukan filsafat ilmu untuk menjelaskan kepada mereka makna dari konsep-konsep ilmiah. Oleh karena itu, ada dua kemungkinan. Apakah para ilmuwan benar-benar mengerti suatu konsep yang digunakannya sehingga dalam kasus ini tidak lagi memerlukan klasifikasi, atau ilmuwan itu tidak tahu makna konsep tersebut sehingga mereka harus mencaari (inquiry) hubungan konsep itu dengan konsep-konsep lain dan dengan operasi pengukurannya. Inquiry tersebut merupakan suatu kegiatan ilmiah yang tipikal. Tak seorang pun akan menuntut bahwa setiap kali seorang ilmuwan melakukan inquiry itu, ia sedang mempraktekkan filsafat ilmu.
Pandangan keempat menyebutkan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu patoka tingkat tingkat kedua (second-order criteriology). Filsuf ilmu menuntut jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.      Karakteristik-karakteristik apa yang membedakan penyelidikan ilmiah dari tipe penyelidikan lain?
2.      Prosedur yang bagaimana yang patut dituruti oleh para ilmuwan dalam menyelidiki alam?
3.      Kondisi yang bagaimana yang harus dicapai bagi suatu penjelasan ilmiah agar menjadi benar?
4.      Status kognitif yang bagaimana dari prinsip-prinsip dan hukum-hukum ilmiah?
Berdasarkan  pertanyaan-pertanyaan itu terdapat perbedaan yang dapat dirumuskan antara doing science dan thinking tentang bagaimana ilmu harus dilakukan.
            Analisis dari metode ilmiah merupakan suatu disiplin ilmu tingkat kedua (second-order discipline). Mata ajaran dari analisasi ini tersebut adalah prosedur dan sruktur dari berbagai ilmu yang tampak pada ilustrasi berikut:
Level
Discipline
Subject-Matter
2
Philosophy of Science
Analysis of the Procedures and Logic of Scientific Eksplanation
1
Science
Eksplanation of Facts
0
Facts





Refrensi
·         Conny R. Semiawan., Made Putrawan., dan Th. I. Setiawan, Demensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Badung: PT Remaja Rosdakarya.






0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik