Konsep Kebahagiaan

Written By zuhri zze on Kamis, 06 September 2012 | 18.12


Kemunculan berbagai agama dan filsafat di muka bumi terkait dengan pertanyaan: untuk apa manusia hidup? Agama lahir pada umumnya di Benua Asia dalam mencari jawaban atas pertanyaan tadi dengan menggunakan intuisi (hati), sedang sistem filsafat muncul di Benua Eropa dengan pendekatan rasio (akal).
Tradisi penggalian malalui filsafat di Eropa, dengan menggunakan rasio menunjukkan bahwa mereka sedang mengikuti sarudaranya di Asia dalam menemukan hakekat kemanusiaan. Mereka memiliki satu keinginan yaitu; ingin memecahkan persoalan penting: apa yang dicari manusia dalam hidup. Para Nabi dan Filosof bersepakat dalam satu kata, bahwa manusia ingin memperoleh kebahagiaan selama hidupnya.
Adanya yang mengatakan kebahagiaan adalah melalui kebahagiaan badani, sementara itu sebagian yang lain mengatkan bahwa kebahagiaan adalah kepuasan rohani atau hati yang tidak dibudakkan oleh keduniaan.
Kelompok pertama menandaskan kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan dan keinginan manusia selama hidup di dunia. Membantah pendapat ini, kelompok kedua menegaskan sebaliknya, bahwa untuk memperoleh kebahagiaan seseorang harus melepaskan diri dari keinginan dunia.
Dapat disimpulkan dari dua pendapat yang dikeluarkan oleh dua kelompok di atas yaitu; kelompok pertama mendorong manusia untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya dan menikmati keindahan kehidupan dunia sepuas-puanya. Sedangkan kelompok kedua memerintahkan manusia jika hendak bahagia, maka melepaskan keduniaan dan menjauhi dengan bertapa, berlaku membujang, menjauhi keramaian, dan hidup dengan fakir.
Disaat pertengkaran kedua kubu yang saling bertentangan secara ekstrem, Islam datang dengan memberikan jalan keluar, penengah bagi keduanya. Untuk meraih kebahagiaan, sebagaimana pendapat kelompok kedua, Islam memerintahkan untuk melepaskan dunia dari hatinya, bukan dari tangannya. Artinya orang Muslim, dunia harus dijauhi oleh hati dan kecenderungan untuk mencintainya. Tapi Islam memperbolehkan untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, sebagaimana kelompok pertama sebagai alat pengabdian kepada Allah. Karena setiap ibadah kepada Allah lebih sering memerlukan pengorbanan badan dengan ritual yang melelahkan dan hati yang rela megeluarkan harta miliknya untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.






0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik