Sejarah Kehidupan Manusia

Written By Ze2 on Senin, 02 Juli 2012 | 09.24


      A.    Zaman Purba
Zaman ini dibagi menjadi dua masa yaitu:
a.       Masa Prasejarah, disebut zaman batu
b.      Masa sejarah
      a.      Masa Prasejarah
Masa ini mencakup kurun waktu selama empat juta tahun sampai kira-kira 20.00 atau 10.00 tahun sebelum Masehi. Kurun waktu ini disebut Masa Prasejarah karena warisan-warisan yang ditinggalkan oleh masa ini tidak “membicarakan” apa pun mengenai dirinya. Segala sesuatu yang diketahui masa ini merupakan hasil kesimpulan para ahli yang meneliti peninggalan-peninggalan yang berasal dari masa ini. Masa ini juga disebut Zaman Batu karena alat-alat yang sudah dapat dibuat manusia untuk hidup sehari-hari dapat dikatakan semua itu dibuat dari batu. Bahan-bahan yang merupakan peninggalan dari zaman  itu seperti yang ditemukan pada tempat-tempat penggalian prasejarah antara lain:
1.      Alat-alat dari batu dan tulang.
2.      Gambar dalam gua.
3.      Tempat-tempat penguburan.
4.      Tulang belulang manusia purba dan hewan, yang sebagian besar sudah dalam bentuk fosil.
Dari sudut perkembangan pengetahuan manusia, zaman ini ditandai oleh pengetahuan apa dan bagaimana, yang diperoleh manusia melalui:
1.      Kemampuan mengamati.
2.      Kemampuan membeda-bedakan.
3.      Kemampuan memilih.
4.      Kemampuan melakukan percobaan berlandaskan prinsip trial and error.
Menurut Karl Popper, cara belajar dari kesalahan yang diperbuat pada dasarnya merupakan karakteristik yang sama pada boleh dikatakan semua makhluk hidup, apakah itu binatang tingkat rendah atau tingkat tinggi, apakah ia seekor simpanse atau seorang ilmuwan.


b.      Masa Sejarah
Masa ini meliputi kurun waktu dari kurang-lebih 15.000 tahun sampai kurang-lebih 600 tahun sebelum masehi. Masa ini disebut Masa Sejarah karena, sebaliknya dari Masa Prasejarah, pengetahuan kita mengenai masa ini diperoleh dari tulisan-tulisan yang dibuat pada masa itu sendiri.
Kemajuan yang bersifat khusus pada masa itu ialah pengembangan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Ketiga jenis kemampuan tersebut berkembang sedikit demi sedikit di berbagai tempat di dunia, dan banyak berperan dalam pengembangan kebudayaan dan berdirinya kerajaan-kerajaan besar pada masa itu ditempat-tempat tersebut yaitu seperti di Afrika ( Mesir), Asia Tengah (Sumeria, Babilonia, Niniveh), Asia Timur (Tiongkok), Amerika tengah (Maya dan Inca). Daya abstraksi, yang merupakan salah satu ciri khas manusia, memegang peranan yang menentukan salah satu ciri kemampuan-kemampuan ini.
Hasil analisis abstraksi dalam berhitung ialah bilangan satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya, yang dalam pemakaiannya perlu diberi tanda atau lambang tertentu. Dengan demikian dara penulisan sebagaimana kita kenal sekarang, baik angka Arab maupun angka Romawi. Dengan dikuasainya kemampuan membaca dan menulis, berkembanglah kebiasaan untuk melakukan pencatatan informasi dan pengumpulan data secara sistematis sehinga akumolasi pengetahuan dan pengalaman mulai memasuki babaknya yang lebih teratus dan lebih “murni” dibandingkan dengan pada waktu dokumentasi dan penyebaran informasi masih berdasarkan tradisi lisan. Pencatatan secara sistematis ini merupakan suatu ciri yang membuat perkembangan ilmu berjalan lebih cepat dan lebih pasti daripada waktu-waktu sebelumnya.
B.     Zaman Mulainya Penalaran yang selalu Menyelidiki
Zaman ini meliputi kurun waktu antara 600 tahun SM, sampai kurang lebih tahun 200 Masehi. Pada kurun waktu ini kebudayaan Yunani membrikan corak baru pada pengetahuan yang berdasarkan receptive mind. Berbeda dengan kebudayaan-kebuadayaan purba yang sudah disebut di muka, bangsa Yunani kuno sudah memiliki suatu penalaran yang selalu menyelidiki, yang tidak mau menerima peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman begitu saja secara pasif-reseptif, tetapi yang ingin terus mencari sampai sedalam-dalamnya akar dari semua fenomena yang begitu beragam di alam ini.
Pandangan orang Yunani mengenai manusia itu melandasi asas demokrasi yang diprakterkkan mereka sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan yang terus menerus merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan bermasyarakat berbagai bangsa sampai saat ini. Pandangan itu juga melantarbelakangi corak filsafat mereka yang banyak menekankan keistimewaan dan kekuatan penalaran manusiawi, yaitu rasionalitas,yang merupakan komponen penting dalam penalaran filsafat berbagai madzhab dari zaman kezaman.
C.    Abad Pertengahan
Umumnya para penulis sependapat bahwa zaman ini meliputi kurun waktu dari beberapa tahun sebelum tahun 500 M dimulai sampai beberapa tahun setelah tahun 1500 M dimulai dengan mengambil patokan beberapa kejadian penting di Eropa, baik dalam bidang politik, seperti perubahan daerah kekuasaan negara-negara, maupun dalamf bidang sosial-budaya seperti penemuan alat cetak.
Ada beberapa orang yang berperan dalam penambahan pengetahuan dan ilmu maupun dalam penerjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab ialah:
Al-Khawarizmi(825) yang menyusun buku aljabar, yang kemudian menjadi buku standar selama beberapa abad di Eropa. Ditulisnya juga tentang buku perhitungan sehari-hari, yang kemudian hari di Eropa menjadi pembuka jalan untuk menggunkan cara demensi yang menggantikan cara penulisan dengan angka romawi.
Omar Khayam (1043-1132) yang di kalangan Islam lebih dikenal sebaagai penyair, tetapi di negara Barat masyhur sebagai ahli perbintangan dan ahli matematika. Di antar penemuannya ia telah sampai pada pemecahan persamaan pangkat tiga meskipun belum dapat menentukan semua akar dari penemuan itu.
Ibn Rush (1126-1198) yang oleh orang Barat disebut Averoes. Selain seorang ahli ilmu kedokteran, ia juga menulis komentar dan menerjemahkan karya-karya Aristoteles. Dari tulisan-tulisannya tampak bahwa Ibn Rush sudah mempunyai paham Evolusionisme, yang berkeyakinan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak tercipta secara tiba-tiba dalam keadaan yang sudah selesai, tetapi terjadi melalui perkembangannya sendiri-sendiri menuju ke bentu yang tampak oleh kita sekarang.
Al-Idrisi(1100-1166) yang merupakan seorang ahli dalam bidang astronomi. Dasar pendiriannya geosentrisme dan homosentrisme, jadi, tetap mempertahankan asas Ptolomeus. Hanya di samping itu ia menyumbangkan pengamatan maupun yang merupakan hasil ketelitiannya yang tinggi sehingga ramalan terjadinya gerhana bulan, misalnya, jauh lebih tepat daripada yang dibuat oleh ahli-ahli sebelumnya.
Dari penjelasan di atas tersirat bahwa ilmuwan Arab pun sudah mempunyai inquiring mind yang tidak  puas menerima begitu saja suatu pengetahuan tertentu, tetapi berusaha mencari akar penjelasannya atau mencari alternatif dari penjelasan yang sudah ada. Hasil penalaran filosofis merela ikut membentuk dasar pemikiran ilmiah pada para ilmuwan sesudah mereka, di samping membuahkan ide-ide beu, penemuan-penemuan ilmiah baru, dan meneruskan hasil penemuan ilmuwan lain. Kesemuanya ini membentuk mata rantai-mata rantai yang penting dalam rangkaian pekembangan ilmu dari masa ke mas.
D.    Zaman Modern
Kira-kira pada permulaan abad ke- 14, di Benua Eropa dimulai pekembangan ilmu yang umumnya dianggap mempunyai tiga sumber, yaitu:
1.      Hubungan antara kerajaan Arab di Jazirah Spanyol dengan Prancis, para ilmuwan Prancis dengan mudah dapat melintasi perbatasan untuk belajar di Spanyol, dan kemudian, sekembalinya ke tempatnya, menyebarkan pengetahunan yang diperolehnya itu di lembaga-lembaga pendidikan di Prancis.
2.      Perang Salib, yang berlangsung sampai enam kali, antara tahun-tahun 1100 dan tahun1300, ternyata membawa “akibat sampingan” yang menguntungkan bagi perkembangan ilmu, filsafat, kebudayaan, dan pengetahuan-pengetahuan lain.
3.      Pada tahun 1453 Contantinopel jatuh ke tangan bangsa Turki. (Oleh penguasanya yang baru, kota itu kemudian diganti namanya menjadi Istambul.) kejatuhan ini menyebabkan mengungsinya para ilmuwan dan pendeta ke Italia dan negara-negara Eropa lainnya sambil membawa karya-karya pengetahuan yang masih dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani).
Pengaruh-pengaruh tersebut di atas sangat besar peranannya dalam mendorong timbulnya ide-ide kreatif yang revolusioner dan bersifat inovatif di Eropa, yang mendobrak tradisi pemikiran-pemikiran keliru yang sudah berlaku, baik dalam menafsirkan fenomena alam maupun dalam melakukan penalaran ilmiah.
Daftar Pustaka
·         Beerling, R.F., 1951 Filsafat Dewasa Ini, Jakarta: Balai Pustaka.
·         Bowr, C.M., 1985 Yunani Klasik (Classical Greece), Jakarta: PT Tira Pustaka.
·         Campble, Norman Robert, 1975, Education of Science: Philosophy of Teory and Experiment,  New York: Dover Publications, Inc.
·         Dardiri, H.A., 1966, Humaniora, Filsafat, dan Logika, Jakarta: CV Rajawali.
·         Conny R. Semiawan, Made Putrawan, dan Setiawan, Deminsi Kreatif dalam Filsafat Ilmu,Bandung: PT Remaja Rosdakarya.






0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik