Pandangan Kaum Oreintalis Terhadap Islam

Written By zuhri zze on Jumat, 13 Juli 2012 | 22.03



Oreintalisme merupakan suatu ilmu ketimun atau ilmu tentang dunia timur. Adapun kata oreintalis dalam pengertian umum berarti semua ahli Barat yang mempelajari dunia Timur (Jauh, Tengah atau Dekat) tentang bahasanya, sastranya, peradabannya ataupun agamanya.
Yang saya maksud disini bukanlah pengertiannya yang luas tetapi yang saya maksud adalah pengertian khusus yaitu penelitian bangsa Barat yang berkaitan dengan dunia Timur yang Islam dalam bahasanya, sastranya, sejarahnya, i’tikad-i’tikadnya, syari’at-syari’atnya serta peradabannya secara umum. Iltulah pengertian yang terlintas di dunia Arab apabila disebutkan kara Oreintalis atau Oreintalisme, hal diatas juga banyak dijumpai di buku/ tulisan-tulisan oreintalis terkemuka.
Sebagai umat muslim setidaknya harus mengetahui tentang kaum oreintalis ini, karena kamum oreintalis inilah yang selalu menantang dengan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, demikian inilah beberapa pandangan kaum oreintalis terhadap Islam yang saya dapatkan dari beberapa buku yaitu:
1.      Oreintalisme – dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya – tidak banyak bergeser dari cara dan metodenya. Dan dalam studinya tentang Islam ia tidak dapat membebaskan dirinya secara sempurnya dari latar belakang agama lahut yang menjadi sumber timbulnya oreintalisme itu sendiri.
2.      Kaum oreintalis mencampur adukkan antara Islam sebagai addin dan ajaran-ajaran yang terdapat dallam Al-qur’an dan sunnah yang shahih dengan kenyataan yang berlaku di bagian dunia Islam dewasa ini. Islam yang patut kita pelajari adalah Islam yang tersebar/ disebarkan oleh kelompok Drwis di berbagai dunia Islam. Yaitu amalan/ kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan kaum muslimin diwasa ini yaitu; yang menyimpang jauh atau dekatnya dari Islam yang asal.

3.      Kaum oreintalis berupaya meyakinkan pentingnya firqah-firqah yang berasal mengatas namakan dari Islam seperti Babiyah, Bahaiyah, Qodianiyah, Bakhdasyiah dan yang lainnya, baik yang lama atau yang baru, sementara itu juga mereka berusaha keras mengobarkan perselisihan antara golongan sunni dan syi’ah. Kaum oreintalis selalu mengatakan bahwa orang yang keluar dari Islam adalah orang yang memiliki penmikiran revolusioner, berjuang membebaskan akal dari ikatan-ikatan dan selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang aneh, dan selalu mengukur apa yang terjadi di dunia Islam sebagai sesuatu yang statis.
4.      Seseorang tidak menemukan obyektivitas dalam tulisan-tulisan oreintalis tentang dinul Islam. Padahal mereka lebih dekat dengan kebenaran ketika menulis tentang agama seperti Budha atau Hindu. Sehingga dapat dipahami “bahwa pedang Muhammad dan Al-qur’an adalah merupakan musuh paling besar yang dikenal dunia sampai sekarang yang menentang hadharah, kebebasan dan kebenaran.
5.      Dalam studi Islam kaum oreintalis menempatkan dirinya sebagai terdakea sekaligus sebagai qadhi.
6.      Kaum oreintalis menempuh jalan/uslub khusus untuk memisahkan secara mendasar antara Barat dan Timur. (Barat adalah Barat dan Timur adalah Timur, keduanya tidak akan bertemu) sebagaimana yang dikatakan oleh penya’ir – Kipling: “Orang-orang Barat mereka adalah manusia berakal, mencintai perdamaian, berpikiran bebas, logis dan mampu mencapai nilai-nilai hakikat, sedangkan bangsa Timur, mereka tidak memiliki itu semua”.
7.      Dalam memandang Islam kaum oreintalis menggunakan ukuran Nashrani, begitu juga pandangannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Al-Masih menurut pandangan mereka adalah asa aqidah, oleh karena itu agama Nashrani dinisbatkan kepadanya. Mereka menerapakan yang demikian kepada Islam, bahwa Muhammad s.a.w., menurut pandangan kaum mulimin tidak ubahnya seperti Al-Masih menurut pandangan Kristen, oleh karenanya mereka memberi nama/ julukan kepada Islam sebagai madzhab al-Muhammady (Mohammadenisme), dan kaum muslimin mereka memberikan julukan mohammadiyin.
8.      Islam diketengahkan oleh kaum oreintalis – dalam tulisan-tulisan atau buku-buku mereka adalah Islam ciptaan mereka sendiri, jadi bukanlah Islam yang kita anut. Begitu pula halnya potret Muhammad yang mereka sebut-sebut dalam tulisan-tulisan mereka bekanlah Muhammad s.a.w., yang kita imani risalahnya, tapi ia adalah figur lain yang hanya ada dalam khayalan mereka.
Demikianlah dapat kita katakan bahwa oreintalisme dalam studinya tentang Islam sama sekali tidak punya barometer ilmu, tapi ia hanya merupakan ideologi yang khusus yang bertujuan memberikan gambaran tertentu terhadap Islam.




           

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik