Pengantar Kepada Filsafat

Written By zuhri zze on Sabtu, 30 Juni 2012 | 01.36


Sebelum masuk kepada pembahasan filsafat yang lebih dalam ada baiknya kita mengetahui, apa yang mendorong timbulnya filsafat, macam-macam pengetahuan manusia, faedah mempelajari filsafat, cara mempelajari filsafat, dan semua yang berkaitan dengan isi filsafat itu sendiri.
Pengantar filsafat ini memang sangat penting bagi pemula belajar filsafat karena belajar filsafat tidak sama dengan belajar dengan ilmu pengetahuan lainnya. Salah satu untuk menguasai filsafat maka harus belajar lebih dulu pengantar filsafat karena isi daripada pengantar filsafat merupakan inti dari pada filsafat itu sendiri.
Dua Kekuatan Yang Mewarnai Dunia
Keadaan dunia yang begini ini ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu pertama ialah agama dan yang kedua ialah filsafat. Sedangkan orang yang mewarnai dunia juga ada dua yaitu nabi dan filosof.
Dari uraian diatas ada timbul pertanyaan. Apaka sains dan teknologi juga mewarnai dunia? Tidak. Sains dan teknologi menggunakan sains dalam garis besarnya netral. Pakasr sains dan teknologi menggunakan sains dan teknologi untuk mewarnai dunia berdasarkan pandangan hidupnya; pandangan hidup itu hanyalah dua agam dan filsafat.
Sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Orang mengorbankan harta, pikiran, tenaga, atau nyawa sekalipun untuk dan karena kepercayaan yang dianutnya.

Selain kenyataan itu, sejarah telah mencatat pula adanya orang kuat, yang kadang-kadang juga berani mati, karena meyakini sesuatu yang diperolehnya karena memikirkannya. Yang ini adalah pemikir atau filosof. Sesuatu dipirkan secara radikal, lantas suatu ketika ia sampai pada kesimpulan yang dianggapnya benar. Kebenaran ini mempengaruhi tindakannya; keyakinannya pada kesimpulannya itu membentuk sikapnya. Socrates sanggup mati dengan cara meminum racun, sebagai hukuman baginya, karena mempertahankan kenenaran filsafat yang dianggapnya benar.[1]
Agama dan filsafat adalah dua kekuatan yang mewarnai dunia. Barang siapa hendak memahami dunia, ia harus memahami agama atau filsafat yang mewarnai dunia itu.
Pengertian Agama
Dulu Adam dan hawa berada di surga, demikian menurut Islam dan beberapa agama lain. Lalau Tuhan menginginkan mereka hidup di dunia untuk sementara. Tuhan berkata kepada Adam dan Hawa: “Berangkatlah kalian ke dunia”, dari itu timbul kekhawatiran, bagaimana caranya hidup di dunia itu Tuhan? Tuhan memberikan jaminan: nanti kalau Adam dan Hawa sudah sampai di dunia, Tuhan akan mengirimkan petunjuk. Isi petunjuk itu ialah tentang cara hidup di dunia. Peraturan tentang cara hidup di dunia inilah yang disebut dengan Agama.[2]
Kerap kalai kita membaca arti agama dari segi etemologi, bahwa agama itu besaral dari dua kata: a= tidak dan gama= kacau.[3]Agama dapat diibaratkan sebagai satu gendung besar perpustakaan kebenaran. Siapa saja dapat memasukinya melalui pintunya. Pintunya dapat dilalui bila terbuka. Pintunya terbuka bila tidak dikunci. Anak kunci pembuka pintu gedung tersebut bukanlah sembarangan, melainkan anak kunci yang sangat istimewa. Anak kunci yang istimewa itu tiada lain ialah Iman.[4]
Sedangkan arti agam menurut istilah dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan atau kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta kaidah yang berhubungan manusi dengan manusi serta lingkungannya.[5]
Pengertian Filsafat
Dalam Dictionari of Phylosophy, filsafat berasal dari dua kata, yakni Philos dan Shopia. Philos artinya cinta, sedangkan Sophiaartinya kebijaksanaan.[6]Filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.[7]
Di atas sudah ada penjelasan mengenai pengertian filsafat, pegertian diatas masih diragukan oleh para filsuf lain dan para ilmuan, akan tetapi perlu diketahui bahwa semua orang memang memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai segala sesuatu. Tetai saya memberikan kesimpulan dari sekian banyak definis filsafat yang dikeluarkan oleh para ilmuan. Filsafat adalah ilmu yang membahas pengetahuan secara koheran, koprehensif serta menyeluruh mengenai pengetahuan itu.
Faedah Mempelajari Filsafat
Berfilsafat adalah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius.[8]Mengetahui isi filsafat tidak perlu bagi setiap orang. Akan tetapi orang-orang yang ingin berpartisipasi dalam membangun dunia perlu untuk mengetahui ajaran-jaran filsafat. Karena sebelumnya sudah disebut bahwa dunia ini dibentuk dan diwarnai oleh dua kekuatan yaitu agama dan filasafa.
Sekurang-kurangnya ada empat macam faidah mempelajari filsafat:[9]
·         Terlatih berpikir serius
·         Agar mampu memahami filsafat
·         Memungkinkan untuk menjadi filosof
·         Menjadi warga negara yang baik.
Cara Mempelajari Filsafat
Isi pikiran filasafat adalah buah pikiran para filosof, lalu bagai mana cara mempelajarinya? Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan memerlukan jawaban yang akurat. Secara garis besar cara mempelajari filsafat itu ada 3 yaitu:
·         Metode sistematis berarti pelajar mengahadapi karya filsafat. Mislanya: mula-mula pelajar menghadapai teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Kemudia ia mempelajari teori nilai atau filsafat nilai dan seterusnya.
·         Metode Historis metode ini digunakan bila pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya para filsuf, jadi sejarah pemikiran. Ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah.
·         Metode Kritis metode ini digunakan mereka yang mempelajari filsafat intensif. Artinya pelajar harus sedikit-banyak telah memiliki pengetahuan filasafat.[10]
Tujuan Mempelajari Filsafat
Filsafat merupakan sebuah ilmu yang digunakan utnuk memperoleh kebenaran rasional, dan berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep sehingga dapat dihasilkan sebuah kebenaran yaitu; kebenaran korespondensi, kebenaran koherensi dan kebenaran fragmatis.[11]
Adapun tujuan dari mempelajari filsafat adalah:
·         Mengerti dan memahami hakekat filsafat.
·         Mengerti apa yang menjadi masalah filsafat.
·         Dapat memperaktekkan cara berpikir filosofi (kritis, analisis, sistematis, radikal, dan universal).
Pengetahuan Manusia
Perlu diketahui bahwa, pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik.[12]Pengetahuan itu diperoleh oleh seluruh umat manusi dengan berbagai cara  dan dengan menggunakan alat yang sekiranya bisa mendapatkan sebuah pengetahuan.
·         Empirisme
Kata ini berasal dari kata Yunani emperikos yang berasal dari kata emperia, artinya pengalaman, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.
John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja dan lilin. Maksudnya bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya  mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar bagi aliran ini.[13]
Kelemahan aliran ini cukup banyak, kelemahan pertama ialah indera terbatas, dan kedua ialah indera penipu.

·         Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.Manusia menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan malalui kegiatan menangkap objek. Orang mengatakan bapak aliran ini ialah Rene Descartes (1596-1650); ini benar. Dalam ungkapannya “dengan berpikir maka aku ada”. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran emperisme yaitu disebabkan kelemahan alat indera, kekeliruan itu dapat dikoreksi seandainya akal digunakan.
·         Positivisme
Tokoh aliran ini adalah August Comte (1798-1857). Ian penganut emperisme. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Bagi aliran ini kebenaran  diperoleh dengan akal,didukung bukti emperis yang terukur. “Terukur” itulah sumbangan positivisme.
Pada dasarnya positivisme ini sama dengan emperisme plus rasionalisme.
·         Intuisionisme
Henri Bergons (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adlah objek yang selslu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatuobjek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek tersebut.
Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti diterangkan di atas, Bergons mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu Intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini juga bisa dikatakan instinct tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Kemampuan pengembangan intuisi ini memerlukan usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenara yang utuh, yang tetap, yang unique, yang di dalam Islam dapat dikenal dengan Tasawwuf .[14]


Daftar Pustaka
o   Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990.
o   Anshari, Syifudin Endang –Ilmu, Filsafat dan Agama, PT Bina Ilmu Surabaya, 1991.
o   Id.wikipedia.org/wiki/Agama.
o   Saebani, Ahmad –Filsafat Hukum Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007.
o   Wahyono, Nuryandi –Rangkuman Ilmu Kalam,Surabaya, 2012.



[1] Hasan, 1973.
[2] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 8-9.
[3] Anshari, Syifudin Endang –Ilmu, Filsafat dan Agama, PT Bina Ilmu Surabaya, 1991, p. 113.
[4] Anshari, Syifudin Endang –Ilmu, Filsafat dan Agama, PT Bina Ilmu Surabaya, 1991, p. 131.
[5] Id.wikipedia.org/wiki/Agama.
[6] Saebani, Ahmad –Filsafat Hukum Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007, p. 22.
[7] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 10.
[8] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 19.
[9] -------------------------------------------------------------------------------------------------.
[10] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 20-21.
[11] Wahyono, Nuryandi –Rangkuman Ilmu Kalam, Surabaya, 2012, p. 4-5.
[12] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 23.
[13] ---------------------------------------------------------------------------------------------.24.
[14] Tafsir, Ahmad –Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990, p. 26-27.





0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik