Tafsir Al-qur'an

Written By zuhri zze on Kamis, 12 Juli 2012 | 09.49


Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam berbagai versinya Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan, Zhulumât (di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi, sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nûr petunjuk ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat.
Dialektika antara manusia dengan realitasnya ditenggarai turut masuk mempengaruhi proses penafsiran itu. Bukankah Al-Qur'an diturunkan bagi manusia, untuk kemaslahatan manusia dan last but not least, untuk "memanusiakan" manusia (bukan menjadikannya makhluk otomatis seperti robot, mesin, hewan ataupun malaikat).
Falsafah hidup Islam menggariskan bersatunya nilai agama dan dunia, kehidupan manusia untuk misi khilâfah/'imârat al-ardl (keduniaan) dan ubûdiyyah (keakhiratan). Prinsip-prinsip tersebut yang senantiasa harus diindahkan ketika kaum muslim berinteraksi dengan Al-Qur'an.
Dewasa ini pola interaksi kaum muslim dengan Al-Qur'an bukan hanya bercorak hudâ'iy, ijtimâ'iy dan ishlâhiy (mencari petunjuk untuk kebahagiaan), tetapi juga 'ilmiy (dalam pengertiannya yang luas mencakup intellectual exercise, tidak hanya mencari pembenaran teori-teori sains dengan landasan ayat suci Al-Qur'an). Bahkan cenderung filosofis murni dan tak ada kaitannya dengan misi transformatif yang menjadi ciri utama kehadiran Al-Qur'an di pentas kehidupan manusia.

1. Surah Al-baqorah ayat 21
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,(Qs. Al-baqorah: 21).[1]

a.      Arti kata/ Mofrodat

Lafadh/ kalimat
Arti/ terjemahan
اعببدوا      
Sembahlah
ربكم
Tuhan pencipta kalian
تتقون
Bertaqwa
قبلكم
Sebelum kalian
خلقكم
Telah menciptakan kalian
لعلكم
Agar kamu sekalian
        
b.      Tafsir Surah Al-Baqorah ayat 21.
            Allah Subhaanahu Wa Ta'aala menjelaskan tentang sifat uluhiah-Nya Yang Maha Esa, bahwa Dia-lah yang memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada menjadi ada, lalu melimpahkan kepada mereka segala macam nikmat lahir dan batin. Allah menjadikan bumi bagi mereka sebagai hamparan buat tempat mereka tinggal, diperkokoh kesetabilannya dengan gunung-gunung yang tinggi lagi besar, dan Dia menjadikan langit sebagai atap sebagai mana disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya dalam Qs. Al-Anbiyaa ayat 32:[2]  Artinya: Dan kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya, (Qs. Al-Anbiyaa’: 32).[3]

Dalam hadits shahihain disebutkan: Dari Ibnu Mas'ud menceritakan, aku bertanya : "Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?"
Beliau menjawab : "Jika kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu," hingga akhir hadits.[4]
Perlu diketahui bahwa ayat diatas ditujukan kepada kedua golongan secara keseluruhan, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dengan kata lain, esakanlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian.

c.       Korelasi/ munasabah surah Al-Baqorah ayat 21-22
Bahwa ketika Allah menyinggung tentang orang-orang mukmin yang beruntung dan orang-orang kafir yang merugi, Dia Ta’ala menyinggung pula tentang kaum Munafiqin yang berada diantara posisi kedua golongan diatas, kemudian dengan cara iltifat (pengalihan), Dia Ta’ala menyeru seluruh mereka dengan ungkapan “an-Naas” (manusia) sehingga menjadi seruan umum bagi manusia semuanya di setiap tempat dan masa, dan memerintahkan mereka agar beribadah kepadaNya untuk menjaga diri mereka dari kerugian.[5]


d.      Hikmah yang terkandung dalam surah Al-Baqorah ayat 21
a.       Hati kita semakin tunduk kepada Allah SWT.
b.      Dengan menjalankan perintah Allah hidup kita akan tenang.
c.       Menyembah Allah merupakan tugas manusia untuk mencapai kebahagaian dan pahala dari Allah SWT.
d.      Dengan menyembah Allah maka kita akan menjadi orang-orang yang bertaqwa.

2. Surah Al-bayyinah ayat 5
 

وﻤﺎ ﺃ ﻤﺮوﺍﺇﻻ ﻟﯾﻌﺑﺪوﺍﺍﷲ ﻤﺨﻟﺼﯾﻦ ﻟﻪ ﺍ ﻟﺪ ﯾﻦ ﺤﻨﻓﺎﺀ وﯾﻘﯾﻤوﺍﺍ ﻟﺼﻟوﺓ وﯾﺅﺘوﺍﺍﻟﺯﻛوﺓۚ وﺬ ﻟﻙ ﺪ ﯾﻥ ﺍ ﻟﻘﯾﻣﺔ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(Qs. Al-Bayyinah: 5).[6]

a.      Arti kata/ Mufrodat

Lafadh/ kalimat
Arti/ terjemahan
مخلصين        
Mengikhlaskan/ memurnikan
حنفاء
Lurus
يؤتون
Menunaikan/ membayar
القيمة
Lurus

b.      Asbabun Nuzul
Karena adanya perpecahan di kalangan mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadat kepada Allah SWT.[7]

c.       Tafsir Surah Al-Bayyinah ayat 5
Ayat tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam akidah.[8] 
Yang dimaksud mendirikan shalat adalah merupakan ibadah jasmani yang mulia. mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu berbuat baik kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Adapun agama yang lurus yaitu agama yang berdiri tegak lagi adil atau ummat yang lurus dan tidak menyimpang.[9]

d.      Korelasi/ munasabah surah Al-Bayyinah ayat 5-6
Bahwasanya Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia supaya menyembah kepada-Nya, dengan cara memurnikan agama Islam, supaya mereka tidak termasuk orang-orang kafir karena orang kafir merupakan seburuk-buruk makhluk Allah SWT, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat selanjutnya.

e.       Hikmah yang terkandung dalam surah Al-Bayyinah ayat 5
a.       Manusia diciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah SWT
b.      Manusia diwajibkan mengingat Allah SWT diwaktu berdiri, duduk, maupun berbaring.
c.       Menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan menjauhkan diri dari sifat-sifat kemusyrikan. Artinya menjalankan agama haruslah dengan lurus, yaitu jauh dari syirik dari kesesatan-kesesatan.[10]
3. Surah Ad-Dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku, (Qs. Ad-Dzariyat: 56).[11]

a.      Arti kata/ Mufrodat

Lafadh/ kalimat
Arti/ terjemahan
خلقت
Telah menciptakan
الجن
Jin
الإنس
Manusia
ليعبدون
Untuk menyembah

b.      Asbabun Nuzul
Ketika para malaikat mengetahui bahwa Allah SWT akan menciptakan khalifah di muka bumi. Allah SWT menyampaikan perintah-Nya kepada mereka secara terperinci. Dia memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan manusia dari tanah. Maka ketika Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh di dalamnya, para malaikat harus bersujud kepadanya. Yang harus dipahami bahwa sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan sujud ibadah, karena sujud ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah SWT.[12]

c.       Tafsir surah Ad-Dzariyat ayat 56
Maksud ayat tersebut adalah Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Nya, bukan karena Allah butuh kepada mereka. Ayat tersebut dengan gamblang telah menjelaskan bahwa Allah Swt dengan menghidupkan manusia di dunia ini agar mengabdi / beribadah kepada-Nya. Bukan sekedar untuk hidup kemudian menghabiskan jatah umur lalu mati.[13]
Shihab (2003:356),
Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.[14]
Berdasarkan ayat tersebut, dengan mudah manusia bisa mendapat pencerahan bahwa eksistensi manusia di dunia adalah untuk melaksanakan ibadah / menyembah kepada Allah Swt dan tentu saja semua yang berlaku bagi manusia selama ini bukan sesuatu yang tidak ada artinya. Sekecil apapun perbuatan itu. Kehadiran manusia ke bumi melalui proses kelahiran, sedangkan kematian sebagai pertanda habisnya kesempatan hidup di dunia dan selanjutnya kembali menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa hidup di dunia.
Syaikul Islam, Ibnu Taimiyah (dalam Nur Hasanah, 2002), memandang bahwa makna ibadah lebih dalam dan luas. Makna ibadah sampai pada unsur yang rumit sekalipun. Unsur yang sangat penting di dalam mewujudkan ibadah ialah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT yaitu unsur cinta. Tanpa unsur cinta tersebut, mustahil tujuan pokok diciptakan manusia, para rasul diutus, diturunkan kitab-kitab, ialah hanya untuk berbadah kepada Allah SWT dapat tercapai.[15]

d.      Kolerasi/ munasabah surah Ad-Dzariyat ayat 55-56
Ketika Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling memberi peringatan kepada sesamanya, karena memberi peringatan membuahkan manfa’at bagi dirinya sendiri lebih-lebih terhadap orang-orang beriman, disamping itu pula pada ayat sesudahnya juga Allah memberikan peringatan mengenai tujuan diciptakan manusia yakni untuk menyembah kepada Allah SWT.

e.       Hikmah yang terkandung dalam surah Ad-Dzariyat ayat 56
a.       Jin dan manusia dijadikan Allah swt untuk tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.
b.      Menguatkan perintah kepada manusia untuk selalu berzikir dan beribadah kepada Allah swt.[16]

 Sumber Bacaan
          
·         Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Baqorah ayat 21.
·         Ibnu Taimiyah (dalam Nur Hasanah, 2002).
·         Tafsir Al-Maragi, Ahmad Mustafa Al Maragi, 1993, semarang: CV Toha putra, halm 152-154.
·        

[1] Qs. Al-baqorah: 21.
[2] Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Baqorah ayat 21, hal 39.
[3] Qs. Al-Anbiyaa’: 32.
[4] Hadits Shahihaini, (riwayat tidak disebutkan).
[6] Qs. Al-Bayyinah: 5.
[7] Departemen Agama Republik indonesia. (http://mu5lim.blogspot.com/2012/05/tafsir-dan-asbabun-nuzul-surah.html).
[8] Departemen Agama Republik indonesia. (http://mu5lim.blogspot.com/2012/05/tafsir-dan-asbabun-nuzul-surah.html).
[9] Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Bayyinah ayat 5, hal 3.
[10] http://bustankholik.blogspot.com/.
[11] Qs. Ad-Dzariyat: 56.
[12] http://www.al-shia.org/html/id/books/anbia/01.htm.
[13] Tafsir Al-Misbah, (halaman tidak disebutkan).
[14] Shihab (2003:356).
[15] Ibnu Taimiyah (dalam Nur Hasanah, 2002).
[16] http://g3scotmv01rahmad.blogspot.com/2011/06/surat-az-zariyat-ayat-56.html.









0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik