Makna Kematian dalam Kaitan dengan Kristus

Written By zuhri zze on Minggu, 09 September 2012 | 09.59


Setelah memahami dengan jelas pilihan-pilihan yang berbeda mengenai peran-peran berkaitan yang dimainkan oleh tokoh Tuhan dan tokoh manusia dalam wujud Yesus, kami mencoba memahami penerapan kata "mati" dan seluruh maknanya yang berkaitan dengan Yesus.
Jika dia mati selama tiga hari tiga malam maka dalam hal itu kematian harus dipahami dalam makna bahwa ruh telah dipisahkan dari tubuh, dan ruh meninggalkannya. Hal itu berarti ruh harus meninggalkan tubuh dan memutuskan hubungannya secara penuh sehingga yang tertinggal hanyalah jasad yang tak bemyawa. Sejauh ini masih bagus. Yesus akhimya telah dibebaskan dari kurungan dalam tubuh lahiriah seorang manusia. Pembebasan dari kurungan ini seharusnya tidak dianggap sebagai suatu hukuman sama sekali. Kembalinya ruh Ilahiah Tuhan Anak ke dalam perwujudan mulia yang sama, dalam bentuk apa pun tidak dapat diperlakukan seperti kematian manusia biasa. Kematian manusia menakutkan bukanlah karena ruh meninggalkan tubuh dan memutuskan hubunganhubungannya dengan memperoleh suatu kesadaran baru, tetapi rasa takut tentang kematian pada dasarnya karena terputusnya secara permanen hubungan-hubungan seseorang dengan banyak orang yang dia cintai yang tertinggal di dunia ini, serta meninggalkan hartanya dan berbagai hal yang dia cintai. Seringkali terjadi bahwa seorang manusia yang tidak memiliki apa-apa untuk hidup memilih lebih baik mati daripada menjalani suatu kehidupan yang hampa.

Dalam kasus Yesus, rasa penyesalan mendalam tidak tampil. Baginya jendela-kematian telah terbuka hanya pada satu arah, yakni berupa keuntungan dan bukan kerugian. Mengapa perpisahannya dari tubuh itu dianggap sebagai suatu hal yang sangat menyedihkan dan sebagai peristiwa yang menyengsarakan? Kembali, jika sekali dia mati dan secara hakiki, tidak secara kiasan, melepaskan nyawa, sebagaimana yang diinginkan orang-orang Kristen agar kami mempercayainya, maka kembalinya dia ke dalam tubuh yang sama adalah suatu langkah yang paling tidak bijaksana yang diterapkan kepada Yesus. Apakah dia dilahirkan lagi ketika dia kembali pada tubuh yang telah dia tinggalkan saat kematian? Jika proses ini akan dinyatakan sebagai hidupnya kembali atau kebangkitan kembali bagi Yesus, maka tubuh pun harus diabadikan juga. Namun, yang kami baca dalam Bible adalah suatu kisah yang benar-benar berbeda. Menurut kisah itu, Yesus telah dibangkitkan kembali dari kematian dengan cara memasuki tubuh yang dengannya dia telah disalibkan, dan itulah yang disebut sebagai kembalinya Yesus memperoleh kehidupan. Dengan demikian, apa artinya langkah Yesus untuk meninggalkan tubuh itu sekali lagi? Tidakkah hal itu akan sama dengan kematian kedua?
Jika perpisahan pertama dari tubuh itu merupakan kematian, sudah pasti yang kedua kalinya dia diyakini telah meninggalkan tubuh manusia, maka seharusnya dia dinyatakan telah mengalami kematian abadi. Ketika ruh meninggalkan tubuh untuk pertama kalinya, anda namakan hal itu kematian; ketika ruh kembali kepada tubuh semula, anda namakan hal itu kehidupan sesudah mati. Namun akan anda namakan apa ketika ruh sekali lagi meninggalkan tubuh yang sama dan tidak pemah kembali lagi — akankah hal itu dinamakan kematian abadi ataukah kehidupan abadi menurut istilah Kristen? Hal itu pasti merupakan kematian abadi dan tidak lebih dari itu. Hal itu merupakan pertentangan di atas pertentangan. Sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengerikan!
Jika dinyatakan bahwa tubuh tersebut tidak ditinggalkan pada kali yang kedua, maka kita mendapatkan suatu skenario aneh di dalamnya Tuhan Bapak tampil sebagai suatu wujud ruhani non badaniah yang tidak terbatas, sementara Tuhan Anak terperangkap dalam batas-batas sempit wujud yang tidak abadi.







0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik