Mujahid Versus Teroris

Written By zuhri zze on Kamis, 06 September 2012 | 18.08


Peristiwa runtuhnya gedung Worl Trade Centre (WTC) 11 September 2001 hingga kini menyimpan banyak rahasia yang tidak mudah terkuak di kalangan para penduduk dunia. Gerak langkah balasan dan kecongkakan Amerika yang membabi-buta, menambah rumitnya suatu permasalahan yang timbul pasca 11 September 2001. Banyak terjadi perbedaan pandangan di antara kalangan individu dan kelompok aktivis menjadi bervariasi dalam mensikapi peristiwa tersebut bahkan di kalangan umat Islam sendiri telah terjadi perbedaan cara mensikapi peristiwa maupun pasca peristiwa tersebut. Sebagian orang dan kalangan mengutuk para pelaku teror gedung WTC, sebagian yang lain justru bersyukur dan tertawa atas kejadian peristiwa tersebut. Sebagian yang lain lagi memprediksikan semua peristiwa itu tiada lain adalah skenario Amerika sebagai pembuka jalan untuk merealisasikan ambisinya menumbangkan pemerintahan Taliban.
Penggunaan kata “Teroris” terus dikumandangkan oleh pihak Amerika demi pembenaran langkah-langkah yang mereka lakukan terhadap umat Islam pada khususnya, serta pembodohan massal terhadap penduduk dunia pada umumnya. Gempuran demi gempuran yang dilancarkan, bukan hanya melukai umat Islam namun juga merupakan upaya pemusnahan umat manusia sedikit demi sedikit dari muka bumi. Dengan dalih perang terorisme, Amerika meletakkan dirinya atau memposisikan dirinya sebagai Polisi Dunia”. Untuk itulah tidak menutup kemungkinan telah lahir dajjal yunior di kantong-kantong penduduk Amerika yang dengan sengaja menciptakan kerusakan demi kerusakan di muka bumi dan merekalah teroris-teroris yang patut diperangi oleh penduduk dunia.
Pada dasarnya, pembicaraan mengenai peristiwa 11 September 2001, tidak lepas dengan struktur dan kultur masyarakat Afghanistan, khususnya rakyat Taliban. Pemerintahan Taliban dengan gigih berupaya menerapkan syari’at Islam di kalangan rakyatnya secara utuh dan murni.
Islam tidak mengajarkan adanya pembagian kelompok seperti Islam radikal, fundamentalis, teroris, maupun Islam muderat. Bahkan umat Islam yang berpegang teguh terhadap Al-qur’an dan As-sunnah, yang murni dan bersih dari pengaruh-pengaruh dari pemikiran kafir adalah umat yang satu dan tidak terkotak-kotak. Kebersamaan dan kesatuan umat Islam adalah salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, penyebutan terhadap umat Islam yang berjihad demi terlaksananya syari’at Islam di muka bumi termasuk di Indonesia dengan beberapa kelompok salah satunya adalah kelompok radikal, fundamentalis, garis yang paling keras dan kasar lagi adalah teroris yang biasanya diberi gelar moderat terhadap para penentang pemberlakuannya syaria’t umat Islam di kalangan umat adalah bid’ah dhalalah. Sebab penyebutan itu berkonotasi adanya dua kubu dalam Islam (kelompok terpuji mencakup muslim, mukmin, muhsin, mukhlis, mujahid dan yang semisalnya dan kelompok tercela mencakup kafir, musyrik, munafiq, fasiq, dzalim dan yang semisalnya). Pembagian serta pengotakan semacam itu pada hakikatnya adalah starategi musuh Islam dalam rangaka menghancurkan Islam.






0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
berita unik